LAGOS INDONEWS – Nigeria menyerukan pembentukan sedikitnya dua kursi permanen bagi Afrika di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk dengan hak veto, serta kembali mendorong reformasi badan global tersebut.
Wakil Presiden Nigeria Kashim Shettima menyampaikan tuntutan tersebut, saat membacakan pernyataan nasional Presiden Bola Tinubu dalam Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di New York.
Shettima mengatakan struktur Dewan Keamanan saat ini tidak lagi mencerminkan realitas geopolitik terkini dan berpendapat bahwa Afrika harus memiliki perwakilan permanen dalam badan yang bertanggung jawab menjaga perdamaian dan keamanan internasional tersebut.
“Dunia pada 2026 tidak bisa terus terbelenggu oleh distribusi kekuasaan pada 1945,” kata Shettima, menurut kantor berita pemerintah Nigeria, News Agency of Nigeria, pada Jumat (25/9/26).
“Nigeria menuntut, sesuai dengan Konsensus Ezulwini dan Deklarasi Sirte, sedikitnya dua kursi permanen untuk Afrika, dengan seluruh hak dan tanggung jawab sebagai anggota permanen, termasuk hak veto selama hak tersebut masih ada, serta total lima kursi nonpermanen,” ucapnya.
Uni Afrika sebelumnya telah menegaskan posisi tersebut pada Mei, dengan mengatakan bahwa tidak adanya Afrika dalam perwakilan permanen merupakan ketidakseimbangan historis dan menyerukan koordinasi yang lebih kuat di antara negara-negara Afrika untuk mendorong agenda reformasi.
Saat ini, Afrika tidak memiliki perwakilan permanen di Dewan Keamanan yang beranggotakan 15 negara.
Dewan tersebut memiliki lima anggota permanen, yakni China, Prancis, Rusia, Inggris, dan Amerika Serikat, sementara 10 anggota lainnya dipilih oleh Majelis Umum untuk masa jabatan dua tahun.
Nigeria berulang kali mengampanyekan kursi permanen bagi Afrika dan menyebut jumlah penduduk, kekuatan ekonomi, peran diplomatik, serta kontribusinya dalam misi penjaga perdamaian internasional sebagai alasan bagi negara tersebut untuk memiliki peran yang lebih besar dalam pengambilan keputusan global.
Dalam pidatonya, Shettima juga menyoroti partisipasi Nigeria dalam operasi perdamaian serta upaya regional melalui Komunitas Ekonomi Negara-Negara Afrika Barat (ECOWAS) dan Uni Afrika.
Ia mengatakan Nigeria telah berkontribusi dalam operasi perdamaian dan upaya diplomatik di sejumlah negara, termasuk Liberia, Sierra Leone, Darfur, Mali, dan Gambia, sekaligus terus mendukung berbagai inisiatif terkait pemberantasan terorisme, tata kelola demokratis, dan keamanan maritim.
Seruan terbaru Nigeria tersebut disampaikan di tengah pembahasan internasional yang lebih luas mengenai reformasi Dewan Keamanan, yang komposisi anggota permanennya tidak berubah sejak pembentukannya setelah Perang Dunia II.
Proses reformasi membutuhkan dukungan luas dari negara-negara anggota PBB dan kesepakatan mengenai perubahan Piagam PBB, sehingga perluasan keanggotaan permanen menjadi persoalan diplomatik yang kompleks.
Sebelumnya, Nigeria menyatakan akan terus berkoordinasi dengan mitra di Afrika dan internasional untuk mendukung posisi bersama benua tersebut mengenai reformasi Dewan Keamanan.

