JAKARTA INDONEWS – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia menargetkan investasi proyek industri strategis mencapai 20 hingga 30 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp361,4 triliun hingga Rp542,1 triliun dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Chief Technology Officer (CTO) Danantara Indonesia Sigit Puji Santosa menyampaikan target tersebut seusai memaparkan portofolio lebih dari 40 proyek industri dalam sesi C-Suite Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026, di Jakarta, Senin (26/10/26).
“Kalau kita bisa mencapai 20-30 miliar dolar AS dalam waktu 2-3 tahun ke depan, itu akan sangat bagus.Tapi kami ingin lebih dari itu,” kata Sigit.
Sigit menjelaskan Danantara menyiapkan lebih dari 40 proyek strategis dalam kerangka pengembangan lima tahun ke depan.
Sejumlah proyek tersebut sedang melalui proses studi kelayakan (feasibility study/FS) dan dapat dilanjutkan ke tahap perancangan teknik awal (front-end engineering design/FEED) sesuai kebutuhan.
Menurut dia, portofolio tersebut mencakup lima klaster industri utama, yakni energi; pangan dan teknologi kesehatan; infrastruktur, mobilitas, dan telekomunikasi; pertahanan, maritim, dan dirgantara; serta material maju. Adapun klaster keenam mencakup industri lainnya, termasuk elektronika, permesinan, teknologi finansial, dan semikonduktor.
“Kami dalam 5 tahun ke depan ini, kami sampaikan tadi, sekitar 40 lebih dari proyek hilirisasi. Saat ini kami sedang melakukan proses full FS, dan juga langsung kalau perlu kita ke FEED,” ujar dia lagi.
Dari sejumlah sektor tersebut, Sigit menyebut mineral, material maju, dan semikonduktor sebagai prioritas pengembangan karena memiliki potensi memberikan dampak ekonomi yang besar.
Pengembangan sektor mineral diarahkan tidak hanya pada kegiatan ekstraksi, tetapi juga pengolahan menjadi komponen, subsistem, hingga produk akhir yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
“Jadi itu yang akan kita prioritaskan,” ujarnya pula.
Untuk merealisasikan pengembangan tersebut, Danantara akan mengutamakan penguatan industri yang sudah ada, termasuk BUMN, serta membuka kerja sama dengan perusahaan lain apabila kemampuan industri dalam negeri belum mencukupi.
“Dan kalaupun memang tidak ada yang existing, maka Danantara juga siap membangun industri baru bersama mitra-mitra strategis kita,” kata Sigit.
Pada sektor energi, portofolio Danantara mencakup dukungan terhadap program pengembangan tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt (GW), pengolahan batu bara menjadi dimetil eter (DME), pembangkit listrik tenaga nuklir, kilang minyak, dan penguatan rantai nilai baterai kendaraan listrik.
Sedangkan pada sektor infrastruktur digital, Danantara memaparkan pengembangan kecerdasan buatan (AI) nasional, komputasi awan berdaulat (sovereign cloud), rencana pusat data berkapasitas daya 1 GW, serta teknologi blockchain.
Sigit juga menyebut rencana pengembangan enam bidang semikonduktor di Indonesia, salah satunya mencakup cip pengendali dan cip untuk pusat data.
Pengembangan tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan industri dalam negeri dalam memproduksi perangkat teknologi, bukan hanya menyediakan infrastruktur.
Di bidang pangan dan kesehatan, Danantara menyiapkan pengembangan industri bahan baku farmasi, vaksin, obat-obatan biologis, biosimilar, serta peralatan medis. Sigit menyebut hampir 94 persen kebutuhan bahan baku obat di Indonesia masih bergantung pada impor.
Adapun pada sektor material maju, portofolio proyek mencakup pengolahan unsur tanah jarang, tembaga, aluminium, baja tahan karat, serta pengembangan produk logam bernilai tambah untuk kebutuhan industri manufaktur.
“Lima ini cukup besar sebenarnya. Saya kira kalau kita 20-30 miliar dolar AS itu mungkin within the reach, tapi kami kira bisa lebih tinggi lagi dari itu,” kata dia.
Sigit menilai pengembangan industri nasional perlu bergerak melampaui kegiatan ekstraksi sumber daya alam dan perakitan produk, menuju penguasaan teknologi, desain, penelitian, dan pengembangan serta kemampuan menghasilkan komponen industri.
Selain portofolio proyek tersebut, ia memaparkan rencana pengembangan 10 kota pintar (smart cities) bersama Danantara Asset Management serta koridor teknologi yang mencakup industri semikonduktor, kendaraan listrik, pertahanan, dan elektronika.
Danantara juga membuka peluang kerja sama dengan perusahaan, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian, baik dari dalam maupun luar negeri, guna memperkuat penguasaan teknologi dan mendukung pelaksanaan proyek industri.
“Kita tidak hanya akan berhenti pada MoU atau NDA,” kata Sigit pula.
Sebagai konteks penguatan industrialisasi, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp480 triliun sepanjang Januari-September 2026, tumbuh 11,3 persen secara tahunan dan berkontribusi 31,2 persen terhadap total realisasi investasi nasional sebesar Rp1.539,2 triliun.
Secara keseluruhan, realisasi investasi nasional pada Januari-September 2026 telah mencapai 75,4 persen dari target tahun ini sebesar Rp2.041,3 triliun, dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak sekitar 2,19 juta orang.

