JAKARTA INDONEWS – Anggota Komisi VII DPR RI Athari Gauthi Ardi mengatakan bahwa keselamatan warga yang terdampak harus menjadi hal yang prioritas setelah adanya bencana banjir bandang di Solok, Sumatera Barat.
Dia menjelaskan penanganan bencana tidak boleh hanya berfokus pada pembersihan material dan pemulihan infrastruktur. Menurutnya, kondisi warga yang berada di kawasan terdampak harus menjadi perhatian pertama.
“Jangan sampai kita terlambat bertindak ketika warga masih menghadapi ancaman. Evakuasi, pertolongan, dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat harus menjadi prioritas bersama,” kata Athari di Jakarta, Selasa (22/9/26).
Untuk itu, dia meminta seluruh unsur yang terlibat untuk benar-benar memastikan tidak ada warga yang tertinggal, terutama anak-anak, lansia, perempuan, dan masyarakat yang membutuhkan pertolongan. Dia pun menyampaikan keprihatinan atas terjadinya bencana itu.
“Infrastruktur bisa kita bangun kembali, kantor bisa diperbaiki, jalan bisa dibersihkan. Tetapi keselamatan dan nyawa manusia tidak bisa digantikan,” kata legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sumatera Barat I yang mencakup Solok tersebut.
Ia juga meminta pemerintah daerah bersama BPBD, TNI, Polri, Basarnas, relawan dan seluruh unsur terkait memperkuat koordinasi di lapangan, termasuk melakukan penyisiran terhadap wilayah yang terdampak.
Jangan sampai, kata dia, para petugas di lokasi justru menganggap kondisi sudah aman hanya karena air mulai surut. Menurut dia, potensi banjir bandang atau longsor susulan harus diantisipasi.
“Masyarakat yang berada di titik rawan harus mendapatkan informasi yang jelas dan diarahkan ke tempat yang benar-benar aman,” kata dia.
Untuk itu, dia memastikan akan terus memantau perkembangan penanganan bencana dan berkoordinasi dengan pihak terkait agar kebutuhan masyarakat terdampak dapat segera ditangani.
“Setelah fase evakuasi selesai, kita harus memastikan kebutuhan warga, pemulihan rumah, fasilitas umum, akses jalan, hingga pemulihan kehidupan masyarakat juga mendapat perhatian,” kata dia.
Menurut dia, musibah yang terjadi itu merupakan momentum untuk memperkuat sistem mitigasi dan kesiapsiagaan bencana, khususnya di wilayah Sumatera Barat yang memiliki kerentanan terhadap banjir bandang dan longsor.
“Mitigasi harus diperkuat, titik-titik rawan harus dipetakan, sistem peringatan dini harus berjalan, dan masyarakat harus mendapatkan edukasi yang memadai,” katanya.

