Minggu, Agustus 9, 2026
Google search engine
BerandaJakartaTelur Retak Masih Amankah Dimakan?

Telur Retak Masih Amankah Dimakan?

JAKARTA INDONEWS – Telur dengan cangkang retak tidak selalu harus dibuang, tetapi keamanan telur bergantung pada kapan retakan terjadi dan apakah telur sampai mengalami kebocoran.

Pakar keamanan pangan dan Direktur Alliance to Stop Foodborne Illness Vanessa Coffman, PhD, mengatakan telur yang sudah retak sebelum dibeli sebaiknya dibuang karena bakteri dapat masuk melalui cangkang yang rusak.

“Jika retakan terjadi sebelum Anda membawa telur pulang, sebaiknya buang telur tersebut atau jangan membeli kartonnya,” kata Coffman seperti dikutip dari laman Health, Minggu (9/8/26).

Sementara itu, telur yang retak saat dibawa pulang atau ketika ditangani di rumah masih dapat digunakan, tetapi harus segera dimasak hingga matang. Jika telur retak dan bocor, telur tersebut sebaiknya langsung dibuang.

Coffman mengatakan telur yang baru retak di rumah juga dapat dipecahkan ke dalam wadah bersih, ditutup rapat, disimpan di lemari pendingin, dan digunakan dalam waktu dua hari.

Retakan pada cangkang dapat menjadi celah masuknya bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan keracunan makanan. Risiko penyakit yang lebih serius terutama dihadapi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Untuk telur yang retak saat direbus, Coffman mengatakan telur umumnya masih aman jika sebelumnya dalam kondisi bersih dan segar serta dimasak hingga mencapai suhu sekitar 71 derajat Celsius. Sementara telur setengah matang yang retak memiliki risiko lebih tinggi karena bagian kuning telur kemungkinan belum mencapai suhu tersebut.

Selain itu, bau dan tampilan dapat digunakan sebagai petunjuk tambahan untuk mengetahui kondisi telur. Namun, uji apung tidak dapat dijadikan patokan yang andal karena telur yang mengapung tidak selalu berarti sudah rusak.

Ahli gizi Amy Woodman dari Farmington Valley Nutrition and Wellness mengatakan telur yang masih baik umumnya memiliki putih telur yang jernih dan kuning telur berwarna kuning. Perubahan tekstur seperti putih telur yang lebih encer atau kuning telur yang lebih pipih dapat terjadi karena telur bertambah usia dan tidak selalu menunjukkan telur sudah rusak.

Telur yang telah retak dalam waktu lama atau mengalami kebocoran sebaiknya dibuang untuk menghindari risiko kontaminasi bakteri.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments