JAKARTA INDONEWS – Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz menilai surplus perdagangan Agustus 2026 sebesar 3,55 miliar dolar AS atau sekitar Rp63,68 triliun memberi bantalan devisa jangka pendek di tengah permintaan impor terkait investasi yang tetap kuat.
Menurut dia, peningkatan surplus terutama ditopang koreksi impor secara bulanan, sementara impor bahan baku dan barang modal secara tahunan masih tumbuh kuat sejalan dengan aktivitas investasi dan produksi.
“Surplus perdagangan Agustus memberi bantalan devisa jangka pendek, tetapi kami melihat perbaikannya masih rapuh, bukan struktural. Peningkatan surplus lebih banyak ditopang koreksi impor bulanan dibandingkan percepatan ekspor,” kata Irman dalam kajian Indonesia Macro Glint Bank Danamon yang diterima di Jakarta, Sabtu (3/10/26).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Agustus 2026 mencapai 26,61 miliar dolar AS atau sekitar Rp477,30 triliun, naik 6,72 persen secara tahunan, sedangkan impor sebesar 23,06 miliar dolar AS atau Rp413,63 triliun, tumbuh 19,09 persen.
Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari-Agustus 2026 membukukan surplus 7,25 miliar dolar AS atau sekitar Rp130,04 triliun.
Ekspor mencapai 193,64 miliar dolar AS atau Rp3.473,32 triliun, sedangkan impor 186,39 miliar dolar AS atau Rp3.343,28 triliun.
Irman menjelaskan impor bahan baku dan barang antara untuk menunjang produksi turun 11,1 persen secara bulanan pada Agustus, sementara impor barang modal berkurang 16 persen.
Namun, secara tahunan, impor bahan baku dan barang antara masih tumbuh 22,5 persen, sedangkan impor barang modal meningkat 10,6 persen.
“Dengan impor bahan baku dan barang modal yang masih tumbuh kuat dibandingkan tahun lalu, kami memperkirakan aktivitas investasi akan terus menghasilkan kebutuhan impor dan devisa yang cukup besar,” ujar Irman.
Ia menilai koreksi impor berpotensi sementara seiring aktivitas manufaktur kembali menguat.
PMI Manufaktur Indonesia naik menjadi 52,4 pada September setelah berada di level 49,8 pada Agustus, menunjukkan aktivitas manufaktur kembali berekspansi.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) memandang peningkatan surplus perdagangan Agustus positif dalam menopang ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.
Surplus perdagangan nonmigas meningkat menjadi 6,09 miliar dolar AS atau sekitar Rp109,24 triliun, sementara defisit migas turun menjadi 2,54 miliar dolar AS atau sekitar Rp45,56 triliun.
BI menyatakan akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas lainnya guna memperkuat ketahanan eksternal sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Ketahanan eksternal juga ditopang posisi cadangan devisa Indonesia sebesar 146,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.627,77 triliun pada akhir Agustus 2026, setara pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Selain perdagangan, Irman menilai prospek ketahanan eksternal juga berkaitan dengan inflasi dan stabilitas rupiah.
“Inflasi September mengonfirmasi tren kenaikan inflasi umum, tetapi belum menunjukkan tekanan permintaan atau inflasi impor yang meluas,” ucap Irman.
Inflasi September tercatat 3,28 persen secara tahunan dan 0,30 persen secara bulanan. Inflasi inti melandai menjadi 2,84 persen, sedangkan inflasi harga bergejolak mencapai 5,03 persen.
Dengan inflasi inti yang masih terkendali, Irman menilai BI masih memiliki ruang mengutamakan instrumen nonsuku bunga, antara lain intervensi valuta asing, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan instrumen stabilisasi lainnya.
Bank Indonesia pada September 2026 mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen untuk menjaga stabilitas rupiah, memastikan inflasi berada dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen, serta mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

