Rabu, Oktober 14, 2026
BerandaEkonomiRupiah Menguat Dipengaruhi Pencabutan Sanksi AS Terhadap BBM Rusia

Rupiah Menguat Dipengaruhi Pencabutan Sanksi AS Terhadap BBM Rusia

JAKARTA INDONEWS – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa, bergerak menguat 13 poin atau 0,07 persen menjadi Rp17.900 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.913 per dolar AS.

Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi menganggap penguatan kurs rupiah dipengaruhi pencabutan sanksi AS terhadap bahan bakar minyak (BBM) milik Rusia.

“Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Rusia telah sepakat untuk memasok solar ke pasar global, dan pemerintahannya untuk sementara mencabut sanksi AS terhadap bahan bakar Rusia, sanksi yang sebelumnya diterapkan untuk memutus aliran pendapatan bagi Moskow guna membiayai perang di Ukraina,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (13/10/26).

Pasokan tambahan ini dinilai dapat membantu meredakan ketatnya pasokan di pasar bahan bakar global, sekaligus mengurangi kekhawatiran pasokan yang belakangan ini turut menopang harga minyak mentah.

Namun, lanjutnya, terdapat keraguan besar terkait “gencatan senjata energi” antara Rusia dan Ukraina tersebut, terutama mengingat adanya laporan bahwa Rusia telah menyerang infrastruktur energi Ukraina pasca Trump mengumumkan kesepakatan itu.

Para anggota parlemen AS dari kedua partai menilai kesepakatan Trump dengan Putin tampaknya melanggar undang-undang AS yang melarang impor energi Rusia, kecuali jika Moskow menghentikan agresinya terhadap Ukraina.

Selain itu, kata dia, kekhawatiran mengenai kerentanan infrastruktur energi dan jalur pelayaran di kawasan Teluk tetap menjadi sorotan setelah Ansarullah Yaman menyerang bandara internasional Riyadh pada akhir pekan, serta adanya laporan serangan terhadap kapal tanker di dekat Selat Hormuz.

“Insiden-insiden tersebut mengancam membatalkan pemulihan pasokan dari Timur Tengah yang sempat terlihat pada bulan September, sekaligus memperkuat kekhawatiran akan gangguan lebih lanjut di salah satu jalur transit energi terpenting di dunia,” ungkap Ibrahim.

Saat ini, perhatian pasar disebut tengah tertuju pada rilis data inflasi AS, yaitu Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI), yang masing-masing dijadwalkan pada Rabu (14/10/26) dan Kamis (15/10/26).

Angka CPI utama bulan September diperkirakan naik 0,6 persen secara bulanan (mom/month on month), meningkat dari 0,4 persen pada bulan Agustus. Begitu pula inflasi tahunan diprediksi naik menjadi 3,7 persen dari sebelumnya 3,4 persen.

“Pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan tahunan IMF (International Monetary Fund) dan Bank Dunia di Bangkok juga akan menjadi perhatian pasar,” ucap dia.

Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini justru bergerak melemah ke level Rp17.930 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.899 per dolar AS.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
 src=

Most Popular

Recent Comments