JAKARTA INDONEWS – Pengurus Besar Jamiyah Ahlith Thariqah Al Mutabaroh Ahlussunnah Wal Jamaah (PB Jatma Aswaja) akan menggelar doa keselamatan bangsa, zikir kebangsaan, dan haul pendiri NKRI dalam menyambut HUT ke-81 RI di Masjid Istiqlal, Jakarta, Minggu.
“Melalui zikir kebangsaan dan haul pendiri bangsa ini, kita akan bersama-sama memanjatkan doa untuk mereka para pendahulu dan pendiri bangsa,” ujar Sekretaris Jenderal PB Jatma Aswaja, KH A. Helmy Faishal Zaini di Jakarta, Minggu.
Helmy mengatakan acara akan dimulai sekitar pukul 19.00 WIB dan diperkirakan lebih dari 50.000 peserta akan hadir memadati Masjid Istiqlal Jakarta.
Ia menjelaskan pengorbanan para pendiri NKRI untuk kemerdekaan Indonesia harus selalu dijadikan refleksi bersama. Kemerdekaan kita hari ini adalah buah perjuangan, tetesan air mata, keringat dan darah dari para pahlawan dan pendiri bangsa.
“Kita jadikan momen ini untuk memperkuat kembali nilai-nilai kebangsaan, mempererat persaudaraan dan bersama puluhan peserta kita munajatkan kepada Tuhan untuk keselamatan dan keberlanjutan Indonesia,” kata Helmy.
Rencananya kegiatan ini Insya Allah akan dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, TNI/Polri, para tokoh nasional lain serta para alim ulama, habaib, dan tokoh muda lintas iman.
Dari perwakilan Islam, hadir diwakili oleh Habib Ja’far. Kemudian tokoh lainnya seperti tokoh muda Hindu Bli Yan Mitha Djaksana, tokoh muda Budha Bhante Dhirapunno, tokoh muda Kristen Pendeta Steve Marcel S, tokoh muda Katolik Romo Antononius Suhardi A, dan tokoh muda Konghucu Is Kristan.
Kehadiran para tokoh muda lintas iman di acara tersebut juga mencerminkan bahwa spiritualitas dapat menjadi kekuatan moral bersama untuk menjaga kerukunan dan keharmonisan bangsa Indonesia yang majemuk.
Helmy menjelaskan kegiatan tersebut dirancang sebagai momentum yang menyatukan berbagai elemen masyarakat dalam satu majelis kebangsaan.
Kegiatan ini menghadirkan ruang spiritual yang inklusif untuk mempererat persaudaraan, memperkuat semangat kebangsaan, serta membangun komitmen bersama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Ulama, Habaib, Kiai dan tokoh agama sebagai penjaga nilai-nilai spiritual dan pembimbing umat agar terjaga akhlak dan persatuan bangsa. Pemerintah, lembaga negara dan unsur TNI/Polri sebagai representasi sinergi antara ulama dan umaro,” kata Helmy.
Ia mengatakan dirancang sebagai momentum spiritual untuk memperkuat komitmen kebangsaan dan persatuan umat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Zikir Kebangsaan dipandang sebagai ruang kolektif untuk menghadirkan kembali nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan nasionalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
