Harga Minyak Anjlok Setelah AS Ancam Menerapkan Sanksi Global ke Iran

0
2

JAKARTA INDONEWS – Harga minyak turun pada Senin, (Selasa, 25/8/26 pagi Jakarta). Koreksi harga minyak dunia terjadi setelah Amerika Serikat (AS) meluncurkan apa yang disebut sebagai kampanye sangsi terberat terhadap Irab.

Mengutip CNBC, Selasa (25/8/26), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi acuan AS, turun sekitar 2,5% menjadi US$ 84,89 per barel. Harga minyak Brent yang merupakan acuan internasional susut 2,5% menjadi US$ 92,06 per barel.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump pada Senin meluncurkan rencana sanksi global yang berfokus pada Iran. AS mengisyaratkan China tidak akan dikecualikan dari strategi itu, yang dijuluki “Operasi Pengucilan Ekonomi” (Operation Economic Outcast).

Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya menggambarkan langkah ini sebagai “D-Day ekonomi” di media sosial. Ia juga menyebutnya sebagai “serangan finansial terbesar yang pernah dikerahkan terhadap pihak lawan.”

“Mereka yang takut akan bahaya menentang Teheran sebaiknya tidak meremehkan konsekuensi dari menguji Washington,” kata Bessent di platform X, merujuk pada ibu kota Iran.

Bessent mengatakan kepada CNBC pekan lalu Washington berniat “meruntuhkan” Republik Islam tersebut dengan “sanksi terberat dalam sejarah,” seiring upaya pemerintahan Trump mendesak sekutu AS dan negara-negara lain untuk memutus hubungan ekonomi dengan Teheran.

Pengumuman ini menyusul ancaman Presiden Donald Trump pekan lalu untuk meluncurkan “operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun” yang ditujukan kepada Iran.

Trump juga memperingatkan adanya penalti finansial berat bagi negara-negara yang membantu Teheran menghindari sanksi. Ia menyebut upaya tersebut sebagai “Perang Ekonomi dan Isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

Harga WTI dan Brent sempat melonjak pekan lalu setelah pengumuman tersebut, yang berarti para investor mungkin sedang melakukan aksi ambil untung pada sesi perdagangan Senin.

Iran telah menanggapi ancaman tersebut. Korps Garda Revolusi Islam menyatakan, Teheran memiliki cara “untuk menangkal dampak buruk dari perang musuh” dan dapat “dengan mudah menjalin hubungan ekonomi dengan berbagai negara,” menurut laporan media pemerintah Iran.

Commonwealth Bank of Australia memperkirakan harga minyak tetap fluktuatif pada paruh kedua tahun ini. Hal ini seiring pasar menimbang apakah upaya Washington untuk mengisolasi Iran secara ekonomi akan berhasil dan bagaimana respons Teheran nantinya.