Kamis, Oktober 8, 2026
BerandaEkonomiHarga Emas 24 Karat di Antam, Pegadaian Hingga Hartadinata

Harga Emas 24 Karat di Antam, Pegadaian Hingga Hartadinata

JAKARTA INDONEWS – Harga emas sedikit menguat pada perdagangan Kamis, (8/10/26). Kenaikan harga emas dunia ini seiring nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) turun dari level tertinggi dalam 18 bulan membantu harga emas pulih dari level terendah dalam dua bulan. Sementara itu, pelaku pasar mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan oleh the Federal Reserve (the Fed) tahun ini. Lalu bagaimana harga emas 24 karat di Antam Pegadaian, dan PT Hartadinata Abadi Tbk?

Mengutip CNBC, harga emas spot naik 0,5% menjadi US$ 4.132,66 per ons pada pukul 01.40 GMT. Pada Rabu, harga emas sempat menyentuh level terendah sejak 5 Agustus akibat tekanan pasar yang dipicu oleh penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember menguat 0,4% menjadi US$ 4.157,60.

Penurunan nilai dolar AS mendorong permintaan terhadap emas yang dihargai dalam mata uang tersebut, karena emas menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

“Prospek investasi jangka pendek untuk emas masih menghadapi tantangan. Saat ini, pasar masih dikuasai oleh penjual, dan kita perlu melihat harga menembus level di atas US$ 4.275 agar bisa lebih optimis terhadap potensi kenaikan harga dalam waktu dekat,” ujar Kepala Riset di Pepperstone, Chris Weston.

“Jika pasar mulai memandang kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang sebagai cerminan risiko kredit negara dan risiko fiskal, bukan sebagai tanda fundamental ekonomi yang lebih kuat, maka emas bisa mulai bergerak berlawanan arah (positif) terhadap imbal hasil obligasi, dan tren investasi sebagai lindung nilai terhadap penurunan nilai mata uang (debasement trade) bisa kembali menguat secara signifikan,” ia menambahkan.

Para pengambil kebijakan The Federal Reserve (the Fed) sempat berbeda pendapat bulan lalu mengenai alasan kenaikan suku bunga.

Beberapa peserta memandang kenaikan diperlukan untuk meredam dampak lonjakan harga energi dan komoditas lainnya, sementara kelompok yang lebih hawkish menganggapnya perlu untuk mengantisipasi munculnya inflasi yang didorong oleh permintaan, demikian menurut risalah rapat.

Para pedagang memperkirakan hanya ada peluang 18% untuk kenaikan suku bunga akhir bulan ini, tetapi mereka mengantisipasi kemungkinan 80% adanya kenaikan pada Desember, menurut perangkat FedWatch milik CME.

Suku bunga yang lebih tinggi mengurangi daya tarik emas, yang merupakan aset tanpa imbal hasil (non-yielding).

Ekonomi global sedang terancam oleh harga energi yang terus tinggi, rekor utang publik, dan risiko dari lonjakan investasi kecerdasan buatan (AI); demikian peringatan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva, yang juga mendesak pemerintah untuk menerapkan langkah-langkah kebijakan fiskal dan moneter yang bersifat melindungi.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
 src=

Most Popular

Recent Comments