Dokter Ungkap Alasan Diagnosis Usus Buntu Bisa Berbeda Saat Diperiksa Lagi

0
6

JAKARTA INDONEWS – Viral konten selebgram Fahira Almira yang membagikan pengalamannya saat berobat ke Penang, Malaysia. Dia mengaku didiagnosis usus buntu di rumah sakit Indonesia, namun di rumah sakit Malaysia tidak.
Spesialis penyakit dalam subspesialis Konsultan Gastroentologi dan Hepatologi, Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP mengatakan, kondisi usus buntu atau appendicitis tidak selalu berada dalam fase akut ketika pasien kembali menjalani pemeriksaan. Gejala yang semula muncul secara akut dapat mereda setelah mendapatkan pengobatan, bahkan dalam waktu beberapa minggu.

“Bahkan, jangankan 3 bulan, mungkin dalam 2-3 minggu kalau kondisinya membaik, maka gejala akutnya sudah hilang. Tapi bisa saja pasien masih ada dalam fase apendisitis kronis,” katanya kepada detikcom, Kamis (13/8/26).

Apendisitis kronis sewaktu-waktu juga bisa mengalami kekambuhan akut. Dengan demikian, kondisi pasien ketika diperiksa pertama kali tidak selalu sama dengan pemeriksaan selanjutnya.

“Jadi memang kurang pas juga kalau dibilang pasien bisa naik pesawat, kemudian bisa berobat ke rumah sakit di sana, jalan kaki, segala macam, dinyatakan sebagai kondisi yang akut. Jadi memang bisa saja pada saat datang sudah kondisinya tidak akut lagi,” kata Prof Ari.

“Sudah mungkin kronis kalau diperiksa pun juga tidak terbukti lagi adanya infeksi,” tambahnya.

Mengenai penanganan usus buntu, penyakit ini tak selalu berakhir dengan tindakan operasi. Pada kondisi tertentu, misalnya saat pasien menolak operasi, dokter data memberi antibiotik dan pereda nyeri untuk membantu mengatasi peradangan. Kendati demikian, pilihan ini juga memiliki risiko dan tidak selalu menjamin penyakit teratasi.

“Bisa saja akhirnya pasien itu tidak jadi dioperasi,” kata Prof Ari.

Namun, hal tersebut juga masih bisa berisiko. Menurut Prof Ari, jika pengobatan berhasil, kondisi pasien bisa membaik dan gejala mereda. Tapi, jika tidak berhasil peradangan bisa berujung pada perforasi atau kebocoran pada usus buntu hingga perlengketan.