Sabtu, Oktober 10, 2026
BerandaInternasionalKlaim Akhiri Delapan Perang, Trump Kesal Tak Dapat Nobel Perdamaian

Klaim Akhiri Delapan Perang, Trump Kesal Tak Dapat Nobel Perdamaian

KANADA INDONEWS – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan kekesalannya karena Nobel Perdamaian tahun ini diberikan bukan kepada dirinya, tapi kepada “orang liberal yang bekerja untuk PBB”.

Ia berkata “tak pernah mendengar sosok tersebut”, merujuk kepada hakim Afrika Selatan Navi Pillay, mantan ketua komisi penyidikan PBB yang menyimpulkan Israel melakukan genosida di Jalur Gaza, yang menjadi peraih Nobel Perdamaian 2026.

“Hari ini, mereka memberikan Hadiah Nobel Perdamaian kepada orang yang saya, maupun orang lain, tak pernah dengar sebelumnya. Dia tokoh misterius,” kata Trump saat berkampanye untuk Partai Republik di Syracuse, New York, menjelang pemilu 3 November.

“Tetapi, selamat buat dia, deh,” kata Trump menambahkan.

Ia kembali mengeklaim telah “menghentikan delapan perang”, salah satunya perang antara India dan Pakistan.

“Untuk satu dari delapan perang itu saja, harusnya pantas diganjar Hadiah Nobel. Saya hentikan delapan perang. Belum ada presiden yang bisa seperti ini sebelum saya,” ujar Presiden AS itu.

Trump lantas menyampaikan kritik kerasnya kepada Komite Nobel serta Norwegia, negara asal Hadiah Nobel.

“Amerika Serikat, yang diwakili saya sebagai presidennya, seharusnya menerima Hadiah Nobel Perdamaian, tetapi saya tidak mendapatkannya. Ini adalah noda yang tak dapat terhapuskan bagi Norwegia,” kata dia.

Ia mengeklaim hadiah tersebut “terhinakan selamanya oleh oknum-oknum radikal yang anti-demokrasi dan merupakan musuh peradaban”.

“Kami tak akan melupakan Norwegia,” kata Trump, sembari menambahkan bahwa kegagalan dirinya mendapat Hadiah Nobel “menjadi contoh lain dari bagaimana Norwegia dan negara-negara lain merongrong negara kita”.

Selepas itu, Trump kembali melontarkan kecamannya terhadap Navi Pillay sebagai seseorang yang “tak dikenal siapapun” dan “membenci Israel” melalui platform Truth Social.

“Saya tak tahu apa-apa soal perempuan itu, dan orang lain pun tak tahu dia! Faktanya, sepanjang yang saya tahu, tak ada yang tahu dirinya selain fakta bahwa dia, jelas-jelas, membenci Israel,” kata Trump.

“Hadiah Nobel ‘Perdamaian’ akan selamanya terdiskreditkan oleh segelintir Ideolog Radikal yang Anti-demokrasi dan merupakan Musuh Peradaban!” ujarnya lagi.

Trump sudah berulang kali menegaskan dirinya merupakan tokoh yang paling pantas mendapat Nobel Perdamaian dan terus mengungkapkan kekesalannya karena tidak mendapatkannya hingga saat ini.

Pillay menjabat sebagai presiden Pengadilan Pidana Internasional untuk Rwanda, hakim ketua Mahkamah Pidana Internasional (ICC), dan Komisioner Tinggi PBB untuk HAM.

Pada periode 2021-2025, ia merupakan pemimpin komisi penyelidikan PBB untuk wilayah Palestina yang diduduki yang menyimpulkan Israel melakukan genosida di Jalur Gaza. Temuan itu dibantah keras rezim zionis Israel.

Komite Nobel menyampaikan bahwa Pillay memegang peran sentral dalam upaya mengadili penjahat perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida. Pillay juga berhasil memperluas jangkauan hukum internasional.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
 src=

Most Popular

Recent Comments