JAKARTA INDONEWS – Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Angkatan Bersenjata dan Veteran Prancis H.E. Cathrine Vautrin meninjau ajang latihan bersama Misi Pegase 2026 di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (24/9/26).
Ajang ini merupakan kegiatan latihan bersama antara TNI AU dengan French Air and Space Force (FASF).
Kegiatan peninjauan ini diunggah akun instagram resmi milik Sjafrie yakni @sjafrie.sjamsoeddin, Kamis (24/9/26).
“Misi PÉGASE 2026 di Indonesia menjadi kesempatan untuk semakin memperkuat interoperabilitas dan kerja sama antara TNI Angkatan Udara dengan French Air and Space Force,” kata Sjafrie dalam akun instagramnya.
Sjafrie menjelaskan, dalam ajang ini dirinya dan Catherine melihat ragam manuver pesawat yang ditunjukkan pilot TNI AU dan FASF.
Beberapa latihan yang dilihat diantaranya proses membawa pasukan terjun payung menggunakan A400M milik Indonesia dan Prancis hingga formasi pesawat tempur Rafale mengisi bahan bakar dari pesawat tanker di udara.
Ragam latihan itu menurut Sjafrie sangat berguna untuk mengasah kemampuan operasi para pilot serta mempererat hubungan bilateral antara negara.
Dia berharap ajang latihan bersama seperti ini bisa terus berlanjut demi memperkuat pertahanan masing-masing negara.
“Kemitraan pertahanan Indonesia–Prancis harus terus diarahkan pada kerja sama yang konkret, saling menguntungkan, dan mampu meningkatkan profesionalisme serta kesiapan kedua angkatan bersenjata, sekaligus berkontribusi terhadap stabilitas dan keamanan kawasan Indo-Pasifik,” tutup Sjafrie.
Angkatan Udara Prancis memboyong jet tempur Rafale dan pesawat angkut Airbus A400M ke Jakarta dalam rangka menjalankan persinggahan Misi Pegase 2026 di Indonesia.
Empat jet Rafale dan dua Airbus A400M, bersama tiga pesawat tanker Airbus A330 MRTT, tampak terparkir di apron Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (22/9/26) lalu.
“Kami membawa sembilan pesawat dari tiga tipe, yang kami sebut sebagai kombinasi pemenang atau kombinasi ajaib,” kata Komandan Misi Pegase 2026, Mayor Jenderal Julien Sabene kepada wartawan.
Sabene menjelaskan persinggahan Misi Pegase 2026 di Indonesia berlangsung pada 20-25 September 2026.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Rafale dan A400M milik Angkatan Udara Prancis dan TNI Angkatan Udara akan melakukan latihan bersama untuk pertama kalinya.
Indonesia baru kedatangan tiga unit pertama Rafale pada Januari 2026, sedangkan satu unit Airbus A400M tiba pada November 2025 dan unit kedua pada Maret 2026.
“Kami telah memiliki A400M dan Rafale lebih lama dari Anda, tetapi kami bersedia untuk saling berbagi praktik terbaik sehingga kita bisa belajar satu sama lain,” ucap Sabane.
Wakil komandan Komando Operasi dan Pertahanan Udara Prancis tersebut menjelaskan Misi Pegase 2026 bermula dari 8 September hingga 15 Oktober, dengan total penerbangan sekitar 80 jam penerbangan dan 40.000 km perjalanan.
Sebelum tiba di Jakarta, Misi Pegase 2026, yang terdiri sekitar 270 aviator, menempuh penerbangan selama sembilan jam dari Jepang.
Sabene menjelaskan Indonesia dipilih sebagai salah satu negara persinggahan karena Prancis menilai Indonesia sebagai salah satu mitra strategis di kawasan Indo-Pasifik.
“Dan Indonesia, di kawasan Indo-Pasifik, adalah negara yang penting, sebuah keharusan. Itulah mengapa ini adalah kali kelima kami singgah di sini, karena Anda berada di pusat gravitasi kawasan ini. Ditambah lagi, sekarang Anda mengoperasikan pesawat yang sama dengan yang kami miliki, Rafale,” kata Sabene.
Airbus A330 MRTT adalah pesawat multiperan dengan kapasitas bahan bakar hingga 110 ton dan mampu mengisi dua pesawat tempur sekaligus di udara.
Pesawat tersebut mampu mengangkut hingga ratusan penumpang atau puluhan ton kargo dalam jarak sangat jauh.
Airbus A400M memiliki kapasitas angkut besar yang mampu mendistribusikan personel, kargo, hingga kendaraan tempur secara cepat melalui pendaratan serbu maupun penerjunan di landasan ekstrem atau minim fasilitas.
Selain transportasi logistik, A400M menjalankan fungsi evakuasi medis, pengisian bahan bakar udara untuk helikopter, serta dukungan pasukan khusus dan pertempuran kolaboratif.
Sedangkan Rafale merupakan pesawat tempur multiperan yang dilengkapi sensor canggih, pembidik helm Scorpion, serta sistem pertempuran kolaboratif untuk beroperasi di lingkungan dengan ancaman tinggi.

