ISTANBUL INDONEWS – Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Mike Waltz, menyatakan pintu tetap terbuka” bagi Iran untuk kembali ke meja perundingan guna mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Berbicara dalam acara Al-Monitor Live di sela-sela Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di New York, Waltz mengatakan pemerintahan Trump yakin waktu berpihak pada mereka dalam konflik dengan Iran, yang dimulai sejak 28 Februari.
“Saya yakin memang demikian,” kata Waltz saat ditanya oleh penasihat senior Al-Monitor, Andrew Parasiliti, apakah AS yakin waktu berpihak padanya.
Waltz kembali mengatakan bahwa pintu terbuka bagi Iran untuk kembali ke meja perundingan.
Dia pun menepis laporan yang menyebut Iran telah menuntut penghentian sanksi AS dan meminta ganti rugi sebagai syarat untuk dimulainya kembali pembicaraan. Waltz menuding itu adalah hal yang mengada-ada.
“Rezim Iran saat ini berada di titik terlemahnya sejak 1979 dan kondisinya semakin melemah,” kata Waltz menyoroti soal tekanan ekonomi dan ambruknya mata uang Iran.
“Mereka (Iran) akan kembali (ke meja perundingan), yang saya harap berlangsung secara damai dan diplomatis,” tambahnya.
Perdamaian di Gaza
Terkait Gaza, Waltz menggambarkan pendekatan yang dilakukan Pemerintah AS sebagai “jenis multilateralisme baru”.
Dia mengatakan pembicaraan dengan Israel tentang pelaksanaan rencana 20 poin Presiden Donald Trump untuk Gaza dapat dilanjutkan setelah pemilu selesai, merujuk pada pemilu parlemen Israel pada 27 Oktober.
Rencana tersebut mencakup pembentukan pemerintahan teknokratis Palestina, rekonstruksi, dan Pasukan Stabilisasi Internasional; sementara negosiasi mengenai pelucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel masih menemui jalan buntu.
Waltz pun mengeklaim ada “calon anggota” yang tertarik untuk bergabung dengan Perjanjian Abraham guna menormalisasi hubungan AS dengan Israel, tetapi ia tidak menyebutkan nama-nama negara calon anggota itu.
Dia menyambut baik keputusan Israel dan Maroko pada awal September untuk saling menempatkan duta besar.
Sementara itu, soal Irak, Waltz memuji upaya Perdana Menteri (PM) Iran Ali al-Zaidi untuk menempatkan milisi-milisi yang didukung Iran di bawah kendali negara, seraya mengatakan semakin lemahnya negara Iran dapat membuka peluang untuk membatasi pengaruh mereka.

