ADEN INDONEWS – Pemerintah Yaman, yang diakui secara internasional, pada Selasa (11/8/26) menyatakan akan merespons serangan berkelanjutan dari kelompok Houthi, seiring meningkatnya intensitas serangan rudal dan pesawat nirawak di wilayah-wilayah yang dikuasai pemerintah.
Serangan-serangan oleh kelompok Houthi dinilai dapat memicu risiko terjadinya pertempuran berskala besar.
Ketua Dewan Kepemimpinan Presidensial (PLC) Yaman, Rashad al-Alimi, menyatakan bahwa pasukan pemerintah kini lebih siap menghadapi eskalasi terbaru ini dan tidak akan lagi membiarkan Houthi “mendikte” waktu serta cakupan konfrontasi militer, seperti dilaporkan oleh kantor berita negara Yaman, Saba.
Al-Alimi bertemu dengan para duta besar dari negara-negara yang mendukung proses politik Yaman. Dalam pertemuan di Riyadh, Arab Saudi itu, dia mengatakan bahwa Pemerintah Yaman telah berupaya menjaga ketenangan relatif yang tercipta menyusul gencatan senjata pada 2022 yang dimediasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Namun demikian, pemerintah Yaman tidak akan membiarkan komitmennya terhadap perdamaian dimanfaatkan oleh Houthi sebagai celah untuk melancarkan serangan tanpa konsekuensi apa pun.
“Negara tidak memulai eskalasi ini, dan tidak pula mencarinya,” ujar al-Alimi, seperti dikutip oleh Saba.
Menurut dia, berbagai serangan baru-baru ini menunjukkan adanya perubahan pada situasi militer dan politik, sembari menegaskan bahwa serangan terhadap wilayah Marib, Hadramaut, dan pesisir barat tidak akan lagi dibiarkan “tanpa konsekuensi”.
Pernyataan itu disampaikan setelah beberapa hari Houthi mengintensifkan serangan terhadap pasukan pemerintah serta infrastruktur di provinsi Marib, Hadramaut dan Shabwa yang kaya minyak, serta kota pesisir di Yaman barat, Mocha.
Dalam beberapa pekan terakhir, Houthi meningkatkan secara signifikan serangan rudal dan drone terhadap wilayah-wilayah di Yaman yang dikuasai pemerintah, serta sejumlah target di negara tetangga mereka, Arab Saudi, yang merupakan pendukung utama pemerintah Yaman.
Kelompok tersebut mengumumkan larangan maritim bagi kapal-kapal yang berafiliasi dengan Arab Saudi pada Juli, dan sejak saat itu mengeklaim sejumlah serangan terhadap kapal tanker minyak yang berafiliasi dengan Arab Saudi di Laut Merah, serta fasilitas energi di wilayah negara kerajaan tersebut.
Houthi mengeklaim serangan mereka terhadap pasukan pemerintah merupakan respons atas apa yang mereka sebut sebagai peningkatan kekuatan dan mobilisasi militer yang didukung oleh Arab Saudi di Yaman.
Mereka juga menyebut serangan ke wilayah Arab Saudi sebagai balasan atas apa yang mereka sebut sebagai blokade terhadap wilayah-wilayah yang dikuasai Houthi.
Yaman dilanda konflik sejak akhir 2014, ketika kelompok Houthi menguasai sebagian besar wilayah Yaman utara, termasuk ibu kota Sanaa, yang mendorong koalisi pimpinan Arab Saudi untuk melakukan intervensi pada 2015 guna mendukung pemerintah Yaman.
Gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mulai berlaku pada April 2022 dan berakhir pada Oktober tahun tersebut tanpa perpanjangan resmi.
Namun, gencatan senjata de facto yang rapuh sebagian besar tetap bertahan sejak saat itu, meskipun terjadi bentrokan sporadis di sepanjang beberapa garis depan.






