JAKARTA INDONEWS – Fenomena pekerja yang menjalani lebih dari satu pekerjaan sekaligus atau double job kian marak di Indonesia, terutama di kota-kota besar. Tekanan biaya hidup, kenaikan upah riil yang terbatas, hingga berkembangnya ekosistem pekerjaan fleksibel atau gig economy membuat banyak pekerja mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, mengatakan fenomena tersebut mencerminkan semakin terbatasnya daya beli pekerja di tengah meningkatnya kebutuhan hidup. Kondisi ini diperberat oleh rata-rata upah riil yang dalam beberapa tahun terakhir cenderung stagnan, bahkan mengalami kontraksi.
“Ini selaras dengan tingkat rata-rata upah riil yang dalam beberapa tahun ini stagnan, bahkan cenderung kontraksi. Sehingga ini memaksa para pekerja mencari berbagai macam jenis pekerjaan lebih dari satu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,” ujar Faisal, Minggu (25/10/26).
Menurut Faisal, fenomena double job tidak hanya terjadi di negara berkembang, tetapi juga di negara maju. Di kawasan perkotaan, pekerja kelas menengah ke bawah kerap harus menjalani dua hingga tiga pekerjaan sekaligus agar dapat memenuhi kebutuhan dasar.
“Kalau mereka hanya mengandalkan satu pekerjaan, daya beli mereka akan rendah dan bahkan tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar setiap harinya,” imbuhnya.
Tekanan ekonomi juga dirasakan pekerja muda, terutama generasi Z dan milenial. Pengamat ekonomi Universitas Padjadjaran, Ida Primiana, menjelaskan bahwa kelompok ini menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok sekaligus tuntutan finansial, mulai dari cicilan kendaraan hingga keinginan memiliki rumah yang harganya semakin sulit dijangkau.
Di sisi lain, paparan media sosial turut memengaruhi pola konsumsi. Promosi, diskon, dan beragam produk berharga murah di platform digital dapat mendorong pengeluaran, sementara kenaikan pendapatan belum tentu mampu mengimbangi kebutuhan tersebut.
“Kondisi ekonomi saat ini serba naik dan mahal, sementara kenaikan pendapatan tidak sepadan. Di sisi lain, media sosial mendorong pola hidup lebih konsumtif,” tutur Ida.
Menurutnya, pekerja muda yang masih memiliki waktu dan tenaga di luar jam kerja cenderung memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mencari penghasilan tambahan.
“Tuntutan hidup tinggi, mereka butuh rumah dan kendaraan dengan cicilan yang tidak kecil. Selama mereka punya waktu dan tenaga lebih di luar jam kantor, mereka manfaatkan untuk ‘mendua’ demi menutup kebutuhan itu,” tutupnya.

