JAKARTA INDONEWS – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merespons cepat krisis kesehatan pascagempa bumi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan mendirikan dua rumah sakit (RS) lapangan berbasis tenda udara (inflatable) guna memastikan tindakan operasi yang aman dari gempa susulan.
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Agus Jamaludin dalam pernyataan tertulis di Jakarta Pusat pada Kamis (27/8/26), bencana ini telah merenggut 105 nyawa.
Selain itu, ia menyebutkan sebanyak 385 korban luka berat masih dirawat intensif, 1.287 orang mengalami luka ringan, dan lebih dari 185 ribu warga tersebar di 444 titik pengungsian.
Ia menambahkan kerusakan sejumlah fasilitas kesehatan memaksa Kemenkes memindahkan layanan ke luar gedung, yakni dengan mendirikan RS lapangan di Aeramo (Kabupaten Nagekeo) dan RSUD Ruteng (Kabupaten Manggarai).
“Ketika bangunan faskes rusak atau retak, pelayanan harus dipindahkan ke lokasi yang lebih aman agar keselamatan pasien dan tenaga kesehatan tetap terjamin,” kata Agus.
Ia pun melaporkan RS lapangan di Aeramo tersebut telah sukses melakukan tindakan operasi kepada delapan pasien.
Guna memperkuat kapasitas 70 rumah sakit dan 444 puskesmas setempat, Kemenkes memberangkatkan 207 relawan medis dari pusat, disusul 78 relawan intensif tambahan yang akan bertugas selama 14 hari ke depan.
Mobilisasi SDM lintas profesi ini, kata dia, dikoordinasikan melalui Health Emergency Operation Center (HEOC) untuk mengisi kekosongan spesialis bedah, ortopedi, hingga tenaga gizi dan sanitasi.
Dokter Alfin Bakhtiar Ilhami selaku Chief Resident Orthopaedi & Traumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) yang bertugas bersama tim RSUD Dr. Soetomo melaporkan telah menangani 18 pasien dalam sepekan terakhir di RS lapangan tersebut.
Ia menjelaskan empat pasien menerima perawatan konservatif, sementara 14 lainnya harus menjalani operasi.
Alfin pun memaparkan timnya sukses menangani satu kasus operasi kompleks pada pasien dengan patah tulang multipel di area tulang selangka, lengan bawah, dan pergelangan kaki.
“Ini merupakan operasi yang kompleks karena menangani tiga bagian tubuh secara bersamaan. Di tengah tindakan, kami bahkan sempat merasakan gempa susulan. Namun, karena kami beroperasi di dalam RS lapangan berstruktur balon (inflatable), tindakan tetap dapat dilanjutkan dengan aman dan hasil maksimal,” kata Alfin.
Selain penanganan trauma fisik, Kemenkes turut mengantisipasi potensi wabah di area pengungsian.
Saat ini, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mendominasi keluhan dengan temuan 9.668 kasus.
Petugas juga mencatat adanya 35 kasus gigitan hewan penular rabies di Nagekeo, yang seluruhnya telah ditangani dengan pemberian vaksinasi lengkap.
Kemenkes memastikan ketersediaan logistik medis, alat kesehatan, dan sistem rujukan pasien tetap aman.






